KOMPAS.com - Modernisasi pada sektor pertanian akan menjadi agenda utama Kementerian Pertanian ( Kementan) dalam menyongsong era revolusi industri 4.0.

Hal tersebut menjadi menarik karena alat pertanian yang digunakan akan serba digital.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy mengatakan terobosan ini salah satunya untuk menghadapi bonus demografi yang diperkirakan mencapai 64 persen dari total penduduk Indonesia. 

"Bonus demografi ini akan menghadirkan besarnya komposisi usia produktif ketimbang usia non-produktif," ujarnya melalui rilis tertulis, Minggu (22/7/2019).

Oleh karena itu, lanjut Sarwo Edhy, Kementan terus membuat kebijakan dan program terobosan untuk mentransformasi pertanian tradisional menjadi modern serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Apalagi sejak tahun 2014 Kementan telah mendistribusikan bantuan alat mesin pertanian dalam jumlah besar, yakni lebih dari 400.000 unit," kata Sarwo Edhy.

Dia menambahkan, seluruh bantuan terbukti telah memberi manfaat besar, terlebih untuk menghadapi era revolusi industri 4.0.

Namun, di sisi lain bantuan dan bonus itu dapat memberi ancaman jika tidak dikelola dengan baik.

"Terutama dari aspek penyediaan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan SDM. Karena itu Kementan juga memperhatikan dari sisi pengembangan SDM," ungkapnya

Alsitan

Melalui modernisasi, lanjut Sarwo Edhy, generasi muda akan merasa bangga karena sektor pertanian mampu memberikan pendapatan yang tidak kalah besar dengan upah seorang pegawai lain. 

Pertanian juga tidak melulu bergelut dengan lumpur dan terpaan sinar matahari.

"Cara bekerja pertanian tidak lagi mengandalkan otot yang sangat meletihkan. Namun, di era ini pertanian sudah menggunakan alat mesin pertanian (Alsintan)," katanya

Di samping itu, pemanfaatan Alsintan telah berdampak besar pada peningkatan nilai ekonomi petani hingga 80 persen.

Kemudian, penggunaan Alsintan mampu menghemat biaya produksi hingga 31 persen dan meningkatkan produktivitas hingga 33 persen.